Di Satu Masa. .

0
COMMENTS


Terkadang aku hanya ingin hujan tak pernah datang.
Bukan karena aku membencinya, bukan pula aku takut basah karenanya..
tetapi karena harapan dan kenangan yang pernah tercipta bersama hujan tak mau hilang dan pergi,
meski ia datang dengan keindahannya yang menyelimut sepi.
Terkadang aku tak mau mendengar gemuruh halilintar,
pun tak ingin melihat kilat yang menyambar di langit sana.
Bukan hanya karena tak mau terkena sambarannya, bukan pula aku lemah dan takut padanya..
tetapi karena kilatan memori selalu melintas bersama kilatannya yang menyilaukan mata,
memekakkan indraku hingga lemah tak berdaya.
Bersama desahan angin di langit masa itu,
besama gemuruh halilintar dan rinai hujan yang pernah mengiringi kisah dulu,
tersimpan berjuta memori, antara suka dan duka.. antara canda dan tawa.. antara cita dan cinta
memori yang telah menjelma menjadi lembaran kenangan dan tak mungkin lekang karena waktu.

(3.2.13)


Kapan Waktu Terbaik dalam Hidup?

0
COMMENTS


Ini kisah seorang pria yang merasa gelisah akan hidupnya. Namanya Hardi. Dua hari ke depan, di bulan Januari ini, ia akan berumur 30 tahun. Ia gelisah karena sebentar lagi akan memasuki masa dekade baru dalam hidupnya dan cemas karena merasa masa-masa terbaik dalam hidupnya akan segera berlalu.
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Hardi selalu menyempatkan diri berolahr…aga di gym. Di sana pula ia akan selalu berjumpa temannya yang bernama Nicholas. Usianya sudah 79 tahun, tapi kondisi tubuhnya masih sangat prima. Hari itu, Hardi tidak terlihat bersemangat. Hal ini pun diperhatikan oleh Nicholas, sehingga ia bertanya, “Apa ada masalah?” Hardi akhirnya bercerita soal kegelisahannya. Lalu, ia bertanya pada Nicholas, “Kapan waktu terbaik dalam hidupmu?”
Tanpa ragu, Nicholas menjawab, “Saat aku masih kecil dan tinggal di kampung halaman, saat aku dibesarkan dengan kasih sayang oleh orangtuaku, itulah masa terbaik dalam hidupku.
Saat aku mulai bersekolah dan belajar segala hal yang sekarang aku ketahui, itu juga masa terbaik dalam hidupku.
Saat aku diterima kerja pertama kalinya dan punya tanggung jawab serta digaji atas kerja kerasku, itulah waktu terbaik dalam hidupku.
Saat aku bertemu istriku dan jatuh cinta, itu juga waktu terbaik dalam hidupku.
Saat pecah perang, aku dan istri harus mengungsi demi menyelamatkan hidup kami. Saat kami tetap bersama-sama dan selamat di sebuah kapal menuju tempat tinggal yang baru, itulah waktu terbaik dalam hidupku.
Saat kami tiba di tanah harapan yang baru dan mulai membina sebuah keluarga, itu waktu terbaik dalam hidupku.
Saat aku menjadi seorang ayah, melihat anak-anakku tumbuh besar, itulah masa terbaik dalam hidupku.
Dan sekarang, Hardi, umurku 79 tahun. Aku masih merasa sangat sehat dan tetap merasa jatuh cinta pada istriku seperti pertama kali bertemu. Itu juga menjadi waktu terbaik dalam hidupku.”
Sahabatku,
Sejatinya, tidak ada masa tertentu yang bisa menjadi masa terbaik dalam hidup ini. Jika kita mampu mensyukuri setiap momen yang sedang kita lewati dengan cara mengerahkan segenap tenaga, hati, dan pikiran terhadap apa pun yang kita lakukan, maka kita akan mendapatkan waktu terbaik dalam hidup. Karena itu, mari kita berjuang untuk merasakan masa terbaik dalam hidup kita mulai hari ini juga! ^_^

Semoga bermanfaat

Laa Tahzan (Jangan bersedih)

0
COMMENTS


Ketika permasalahan hidup membelit bagai hendak mencekik diri, hingga hanya kebingungan serta kegalauan yang menyelimuti rasa hati. Ketika jiwa diliputi rasa gelisah yang menghempas dan semua pintu solusi terlihat buntu.. 

Ketika kepala serasa hendak meledak dengan semua beban yang tak kunjung berkurang, tetapi justru semakin berat, hingga tak mengerti apalagi yang mesti dilakukan. Tak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Hingga dunia terasa begitu sempit dan menyesakkan..

Ketika kepedihan mengoyak hati, mencabik hingga dasar nurani. Ketika kabut kesedihan menyelimut, menelusup ke dalam sanubari karena musibah yang datang silih berganti.
Hingga batin selalu bertanya apa yang harus dilakukan untuk meringankan beban ini?
Apalagi yang mesti dikerjakan untuk melepas kekecewaan ini?

Ketika kesalahan dan kehilafan tak sengaja dilakukan. Ketika beban dosa terasa menghimpit badan. Ketika rasa bersalah mengalir ke seluruh pembuluh darah. Ketika penyesalan menenggelamkan diri dalam air mata kesedihan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban jiwa ini?

LAA TAHZAN, JANGANLAH BERSEDIH..
Semua adalah cobaan yang akan mendewasakan kita..
Bersabarlah, jangan putus asa, niscaya Allah akan menolong kita :)

Allah berfirman, "Barangsiapa bertakwa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."

Rasulullah bersabda, "Ikutilah kesalahan dengan amal baik, niscaya ia akan menghapus dosa-dosamu."

Ibnul Jauzi pernah berkata, "aku pernah dihimpit permasalahan yang membuatku gelisah dan galau berlarut-larut. Kupikirkan dan kucari solusi dengan segala cara dan usaha.

Tapi aku tidak menemukan satu jalan pun untuk keluar darinya, hingga kutemukan ayat itu. Maka kusadari, bahwa jalan satu-satunya keluar dari segala kegalauan adalah ketakwaan. Dan ketika jalan ketakwaan itu kutempuh, tiba-tiba Allah sudah lebih dulu menurunkan penyelesaian. Maha suci Allah".

Sungguh kita semua pasti pernah merasakan kebuntuan hati. Seolah semua jalan keluar sudah tertutup rapat. Maka saat itulah kita baru menyadari betapa lemahnya kita dan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

Menyadari kelemahan bukan berarti pasrah sebelum ikhtiar. Bukan pula pembenaran atas segala kesalahan dan kecerobohan. Namun sebagai bentuk bersandarnya hati pada Dzat yang Maha Besar yaitu Allah SWT, manakala semua langkah ikhtiar untuk keluar dari permasalahan sudah dicoba.

sahabatku .. Tapakilah jalan takwa, niscaya akan datang pertolongan Allah. Dan segala kegelisahan pun akan segera sirna ... insya Allah ...
Laa Tahzan. .innallaha ma'anaa
Allah selalu punya rencana terbaik dan cara terbaik pula untuk kesudahannya :)


keep smile ..
keep spirit ..
keep istiqomah all day ..

.. insya Allah .. Allah is always by your side :)